Perih terlintas disudut bibirnya
Karna “pria”- nya menjulurkan dua lembar sepuluhribuan
Mandikanlah dia, halus dia melirik si kuda hijau
Kemudian menyeruput sigarette nya sambil tersenyum dingin
Aaa…, senyum perih gadis itu seakan terpahat di bibirnya
Sampai juga kita dihujung skenario
Perutnya sudah kenyang
jika tentang perpuluhan
sang gadis bisa saja berhutang kecil2 pada kawan
maka dijauhkannya jemari “pria”- nya. Kaupun sering kelaparan,
umpat sang gadis
lalu drama berakhirlah, drama di meja makan, drama
menunggang kuda hijau
drama di ranjang
sang gadis melacur lagi pada sang kekasih
bisa karna lauk tak ada di rumah
bisa karna sang kekasih rindu
bisa karna janji
dipacunya si kuda hijau menuju pulang. Hampir gelap.
Mungkin gelap adalah bentuk hatinya
Aaa…, maka kutulis hal lain pada skenario berikutnya
mungkin tentang pria yang menemaninya
menghabiskan sisa tahun baru tahun lalu dengannya,
mungkin tentang bintang yang sungguh menyumpal langit malam
itu
mungkin tentang dua kotak bika yang dititip diam- diam
padanya
mungkin itu bisa memenangkan senyum indahnya
Kuharap…