Senin, 24 April 2017

070117

Para Puisi

Kita semai dusta diatas luka
Berjanji pada senja
Tak’kan kembali lagi

Honter, honter…
Lupakan dulu aku pernah
Sungguh mencintai kamu
Luka ini entah luka apa
aa… para puisi

kulepas Toba dipucuk malam
diatas kapal. Kulepas pula bayang- bayangmu
berharap aku bisa membuka lembaran baru
tanpa bayang- bayang kejimu
menyumpal segalaku

jangan lepaskan dengan dendam
berceritalah di dek 4
pada ombak, mercusuar diiringi debur ombak yang besar- besar

lihat kabin selalu terbuka
mengantri penumpang kian membukit.
Oh, semua semeraut
Angin ini mulai meninabobokkan mata ini
Hahhh! Dimana kau, Pagi?

Jangan lepaskan dengan dendam
Berceritalah, hapus dendam mu
Pergi ubati lukamu
Kelak balut pula para virgin
Itu harapanmu
Jangan dendam, Jangan!

Sungguh jangan

Aku kuat saat terluka

Sama halnya denganku, mudah terlena, karna itu aku mudah jatuh dalam kesalahan yang sama lagi dan lagi. Cinta yang selama ini aku banggakan sudah mati rasanya dikubur oleh dendam dan benci yang kian hari semakin parah. Aku tidak tau darimana datangnya rasa benci dan dendam itu. Mungkin dari pergunjingan dua jiwa yang tidak merasa saling memiliki namun saling mengikat. Belenggu. Tentu saja itu dinamakan belenggu. Ahk, hampir tiga tahun. tepatnya, 3/4 dari masa itu melahap semua rasa cinta yang dulu kuyakin membuat aku bahagia itu. Kesunyuian yang bersarang di hati kian kelam saat cinta itu menjadi tidak wajar padaku. Cinta. Aku pernah bersumpah pada diriku yang diperhatikan oleh alam yang kala itu tengah menyuguhkan petir dan kilat maha dahsyat. Aku bersumpah, apapun yang terjadi aku tetap akan mencintai dia. Aku hanya bisa disingkirkan oleh dia sendiri, cinta itu. Kutenggelamkan diri dalam kelamnya cinta yang kupuja itu. Memberi semua yang ada seolah aku akan mendapat ganjaran yang sangat indah saat menyerahkan segalanya. Tentu saja kita tau apa yang akan terjadi setelahnya. Cinta berbelatung dicampakkan ke parit penuh kotoran, menjijikkan. Sangat. 1/4 dari tiga tahun itu memaksaku memberi ruang pada airmataku yang bahkan selama ini tidak pernah kuberi pada siapapun. Dia memaksaku untuk menguras airmataku. Aku tetap bisa betahan dengan semua itu, lagi dan lagi. pasti pula hal seperti ini sudah menjadi hal paling biasa hadir ditengah- tengah kita. Sisa dari tahun tahun itu adalah kini, dendam, entahlah...aku belum bisa menebak,

ah,
cinta bukan yang kucari lagi. dia sudah berubah menjadi benci dan dendam...
saat dimana kepasrahan tidak diletakkan pada makam yang benar.
aku tau dia pecundang, hanya mampu menawari luka dibalik senyum
itu terjadi disaat seperti ini. saat terluka.dan aku kuat

hanya saja...




Sudah, makan dulu sanahhhh, ada bakwan spesial ituhh.
Yang nyelonong baca, Awas ada virussssss...... eehhehehehe #!@$@#^$%(*^&)%!@%#$^*^

Jumat, 07 April 2017

Kesalahan yang bisa diperbaiki (lagi)



Hal menyedihkan dalam hidup adalah gak bisa balik ke masa dimana kita melakukan kesalahan yang sudah menenggelamkan kita dalam jurang yang paling dalam. Itu menyebabkan kita merasa terjebak dan gak bisa bangkit meraih impian yang pernah kita tanamkan dalam hati kita. Terlebih saat kita gak bisa ketawa seperti sedia kala. Karna satu hal. Kesalahan. Tapi pasti akan sangat terdengar egois kalau aku bilang itu bukan sebuah kesalahan. Tetapi jebakan. Bukannya bermaksud berdalih mengikis kesalahan yang muncul tersebut dari dalam diri. Tapi jika itu memang adalah hal yang sangat akan membuat mu terluka bukan karna keinginanmu, ah, hidup siapa yang tau akan akhirnya? Jalan yang kita jalani saat ini adalah jalan yang harus kita tempuh dan hadapi sebagaimanapun beratnya. Kesalahan dimasa lalu gak akan pernah bisa kita hapus bagaimanapun caranya. Kita hanya bisa memperbaikinya di masa sekarang iniiii. Merubah sikap, tindakan dan yang terpenting adalah merubah pola pikir kita yang cenderung sangat terkungkung dengan kesalahan di masa lalu tersebut. Itu menyebabkan kita sangat susah untuk bangkit dan berdiri apalagi untuk meraih impian kita. Masa lalu biarlah masa lalu (katanya Inul Daratista). Ah, lebih menarik lagi kalau kupikir lirik lagunya Ayu Tingting “yang sudah, sudah sudahlah”. Bagaimanapun gak acci frustasi. Apa kita dangdutan aja kali ya biar bisa lupa semua kesalahan di masa lalu yang mencegat impian itu. Kudengar, dangdutan memang bisa ngilangin rasa bersalah kita, bisa membuat kita lupa akan semua masalah hidup yang sedang mengikat darah dan tubuh kita. Tarok aja kamu tahan dangdutan sampai satu harian, eh, besoknya apes ternyata masalah kamu gak pergi kemana- mana, alias gak tuntas. Kesalahan kamu itu gak ada yang bisa nebus dengar bayaran tunai. Gak lucu juga ya. Dangdut bullshit. Ah, sepertinya aku jadi ikutan kesal sama yang namanya lagu dangdut. Sepertinya juga aku gak tau kemana arah pembicaraan ini. Ngeyel buat aku nelangsa. Wow…!
Kesalahan terbesar apapun yang pernah kamu lalui atau yang pernah terjadi dalam hidupmu dimasa silam tidak pantas menghentikan langkahmu dalam meraih cita- cita. Sekarang semua benda yang udah rusak bisa diperbaiki separah apapun kondisi barang- barang tersebut. Apalagi masa depan yang kamu pikir sempat hancur lebur itu. Tidak, dia belum menjadi keping- kepingan. Dia hanya tertimbun debu rasa bersalah yang sangat tebal. Masalahnya, gak seorangpun yang bisa menyingkirkan debu- debu tersebut kecuali kamu sendiri. Karna hanya kamu yang tau dimana letak kunci kekuatan kamu tersebut. Ayo ambil itu! Tidak pantas mereka menimbuni cita- citamu. Yang bisa melakukan itu adalah semangatmu yang akan bangkit sepuluh kali lebih kuat untuk memperbaiki kesalahan tersebut.

Rabu, 05 April 2017

Penguatan Pendidikan Karakter (PPK)

Pengertian dan Urgensi Program Penguatan Pendidikan Karakter (PPK) Program Penguatan Pendidikan Karakter ( PPK ) adalah Program pendidi...